“BRAVE” kisah tentang seorang putri yang merubah takdirnya dengan Melawan Tradisi. Tidak seperti kebanyakan seorang putri pada umumnya, Merida adalah seorang putri yang memiliki keunikan sendiri, dia tidak suka berdandan, tidak suka dengan keterikatan dan peraturan2 kerajaan yang selalu menuntutnya bersikap sopan sebagai seorang putri. Namun bukan berarti dia tidak punya kelebihan, semua orang tahu bahwa ia adalah seorang pemberani dan mahir menggunakan panah. Ketika banyak orang mendambakan kehidupan mewah layaknya anggota kerajaan, namun Merida menginginkan hal lain, yaitu kebebasan.
Kisahnya berawal pada tahun-tahun pertamanya dia bisa berlari, Merida diberikan sebuah busur dan anak panah oleh Fergus sebagai hadiah ulang tahun ketika mereka sedang berburu di hutan. Ketika sedang berburu di hutan, keluarga Merida diserang oleh seekor beruang buas hitam bernama Mor`du. Merida dan Ibunya, Ratu Elinor (Emma Thompson), berhasil melarikan diri sementara Fergus berjuang untuk menghalau sang beruang berwarna hitam itu.
Dalam pertarungannya, Fergus kehilangan kaki kirinya dan bersumpah untuk membalas dendam serta membunuh beruang tersebut.
Merida yang telah tumbuh dewasa sebagai putri yang penuh semangat dan sebagai calon pewaris kerajaan Dunbroch harus mengikuti tradisi ketika kedua orang tuanya berniat menikahkan putrinya dengan anak sulung dari kelompok suku utama di Skotlandia. Sejak kecil,kehidupan Merida memang selalu diatur oleh Ratu Elinor yang merupakan ibu Merida, Elinor selalu mengajari Merida bagaimana bersikap layaknya seorang putri, ibunya juga melarangnya menggunakan senjata. Dan kali ini Merida benar2 tidak mau menuruti ke dua orang tuanya. Dia menolak untuk dijodohkan, tp dia harus mengikuti tradisi kerajaannya.
Dihari yang ditentukan, Tiga kepala klan dari kerajaan DunBroch, Macintosh, MacGuffin, dan Dingwall datang dengan membawa putra sulung mereka untuk bertarung memperebutkan Merida. Sesuai tradisi kerajaan DunBroch, harus diadakan sebuah permainan untuk memperebutkan sang putri, dan sang putrilah yang akan menentukan permainannya.
Putri dari Fergus itu akhirnya menantang para pelamarnya dengan kompetisi memanah, yang merupakan hal yang dikuasai Merida, dengan harapan tiga putra kepala suku itu gagal melewati ujian tersebut.
Awal dari puncak masalah cerita terjadi ketika putra kepala suku Dingwall secara tidak sengaja berhasil melesakkan anak panah tepat sasaran.
Merida, yang belum siap untuk dipinang, menggagalkan usaha ketiga putra kepala suku tersebut dengan melesakkan anak panah ke setiap target dan bahkan salah satu anak panahnya membelah anak panah Dingwall yang disajikan dengan adegan lambat ala film Robin Hood.
Sang Ibu Elinor, yang selalu mengajarkan tata krama menjadi seorang putri, kecewa dengan tingkah putrinya hingga suatu ketika pecah pertengkaran di antara keduanya.
Puncak pertengkaran terjadi ketika Merida membelah permadani rajutan yang menggambarkan potret keluarga mereka, sementara Elinor melemparkan busur panah Merida ke perapian.
Merida dengan marah meninggalkan istana mengendarai kudanya Angus, sementara Elinor dengan menyesal segera meraih kembali busur yang telah dilemparnya ke perapian.
Dalam perjalanan meninggalkan istana, Merida melihat cahaya harapan, dan mengikutinya. Lalu dia menemukan rumah ditengah hutan. Disana dia bertemu dengan seorang penyihir tua yang menyamar sebagai seorang pemahat kayu. Melihat kejanggalan-kejanggalan ditempat itu, Merida pun tahu kalau nenek itu adalah seorang penyihir, Merida pun berpikir mungkin saja nenek sihir itu bisa merubah watak ibunya untuk membatalkan perjodohannya, dan kemudian dia meminta penyihir tersebut untuk merubah ibunya. Merida pun melakukan transaksi dengan Nenek itu, dia menukarkan sebuah kepingan koin yang memiliki ukiran cantik dengan 1 mantra untuk merubah ibunya. Lalu nenek sihir itu memberi Merida roti untuk diberikan pada ibunya, Elinor. Namun mantra penyihir itu membuat segalanya menjadi kacau. Elinor benar-benar berubah, secara fisik, menjadi seekor beruang hitam besar.
ini menjadi masalah besar karena setiap orang dalam kerajaan Dunbroch sangat-sangat membenci beruang, apalagi Fergus, ayah Merida yang telah bersumpah membalas dendam dan membunuh beruang yang telah menghilangkan satu kakinya.
Dari sana, dimulai lah petualangan Merida untuk menghilangkan kutukan yang menimpa sang ibu dan mencari arti dari keluarga yang sebenarnya.
Merida ketakutan melihat sosok beruang hitam yang sangat besar, namun dia memberanikan diri, karena dia tahu kalau itu adalah ibunya. Elinor yang telah berubah menjadi beruang tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dia melihat cermin dan ketakutan, dia bingung harus bagaimana. Merida berinisiatif untuk keluar dari kerajaan dan mencari nenek sihir itu. Saat di jalan lorong istana menuju pintu keluar, mereka bertemu dengan salah satu pelayan. Pelayan itu lari ketakutan, dia bertemu Fergus, dan menceritakannya. Fergus dan pasukannya mengelilingi istana untuk mencari beruang yang sesungguhnya adalah Elinor. Lalu Merida meminta bantuan adik2 Merida yang kembar tiga dan nakalnya seperti setan. Mereka hanya mau membantu jika diberi kue selama setahun, dengan terpaksa Merida mengiyakannya. Si kembar tiga pun mengecoh Fergus dan pasukannya untuk mempermudah Merida dan Elinor kabur.
Mereka berhasil kabur dan berlari menuju hutan mencari penyihir yang ditemui Merida, namun disana mereka hanya menemukan rumah kosong. Dirumah itu mereka menemukan pesan sihir yang ditinggalkan penyihir itu di dalam sebuah tungku, pesan itu berisikan sebuah teka-teki untuk menghilangkan mantranya, isi dalam pesan itu “Setelah mentari kedua, mantramu akan permanen, Kecuali kau ingat kata-kata ini "Takdir bisa dirubah. Renungkan, Perbaiki ikatan yang rusak karena keangkuhan. " mereka tidak bisa memahaminya, Merida yang emosi malah mengobrak-abrik tungku itu, tiba2 cahaya keluar dari situ, dan . . . ketika mereka sadar, mereka sudah berada di tengah hutan. Merida memutuskan untuk bermalam disitu. Paginya, mereka berburu ikan disungai, Merida yang ahli menggunakan busurnya, bisa dengan mudah mendapatkan ikan. Merida juga mengajari Elinor berburu ikan di sungai, mereka berburu berdua. Elinor mulai terlihat aneh ketika dia menjilati tangannya, persis seperti seekor beruang, Merida hanya mengerutkan dahi melihatnya. Tiba-tiba Elinor pergi berjalan menuju hutan tanpa mempedulikan Merida. Merida mengejarnya, saat Merida berhasil sampai pada Elinor, Elinor berbalik dan melihat Merida layaknya melihat musuhnya, lalu dia menyerang Merida, gerakannya terhenti ketika cakarnya hampir menyambar Merida. Elinor tersadar, dia hampir saja membunuh anaknya, itu karena hati Elinor mulai berubah menjadi hati beruang.
Dalam hutan, lagi lagi Merida menemukan cahaya harapan yang menunjukan jalan menuju rumah nenek sihir dulu. Mereka berdua mengkuti cahaya harapan itu. Cahaya itu menuntun mereka menuju keatas gunung yang berkabut tebal. Mereka menemukan seperti reruntuhan bangunan disana. Ketika sampai di atas, Merida terjatuh masuk ke dalamnya. Merida melihat singgasana disitu, dia teringat cerita yang pernah diceritakan ibunya, tentang kerajaan yang di pimpin oleh 4 saudara, dan terpecahbelah karena si bungsu ingin menguasai kerajaannya sendiri. Merida menemukan patung 4 raja itu dalam satu batu namun terbelah pada bagian si bungsu, itu sama dengan permadani Merida yang terbelah. Lalu Merida menyadari kalau mantranya pernah terjadi, yaitu pada kerajaan 4 saudara yang telah hancur itu, dan si bungsu itu sekarang telah menjadi Mor’du(beruang yang elah mematahkan kaki Fergus). Tiba-tiba mor’du muncul dari belakang Merida, Merida menyerangnya dengan busurnya tp busur itu tidak mempan pada mor’du. Merida berlari keatas sebelum mor’du menerkamnya. Setelah sampai pada Elinor, mereka pun lari ketengah hutan meninggalkan mor’du. Merida teringat kata kata penyihir itu, perbaiki ikatan yang rusak karena keangkuhan, berarti mereka harus menyatukan permadani itu kembali. Setelah tahu kuncinya mereka bergegas menuju istana kerajaan. Mereka berhasil menyelinap masuk istana. Ternyata di dalam istan sedang ada pertikaian antara DunBroch dan tiga suku utama Macintosh, MacGuffin, dan Dingwall. Semua teriakan dan keributan terdiam ketika Merida masuk ruangan. Merida mulai berceramah, namun raja dari tiga suku menentangnya. Tapi Merida tidak menyerah dan malah membentak mereka, dan dia melanjutkan ceramahnya. Semua mendengarkan cerita Merida, mereka tertegun ketika Merida berkata “ibuku, seorang ratu.. merasa dalam hatinya… bahwa kami..ee kita.. bebas menulis cerita kita sendiri, mengikuti…hati..kita. dan menemukan cinta dengan cara kita sendiri.” Dengan serentak mereka bertepuk tangan dan terharu. Tiba-tiba ada seorang prajurit curiga dengan Elinor yang sedang menyamar sebagai patung beruang, Merida yang mengetahuinya berusaha untuk mengalihkan perhatiannya dengan menyuruh semua orang ke ruang makan, untuk menikmati jamuan dari ayahnya. Trik Merida rupanya berhasil, semua orang menuju ruang makan. Mereka segera menuju kamar Merida untuk memperbaiki pemadaninya. Tak terduga, Fergus yang sedang mencari Elinor, melihat kamar Elinor berantakan, dia panic dan masuk ke kamar Merida yang berada di sebelahnya. Dia kaget saat melihat sosok beruang hitam raksasa. Lalu Fergus berusaha meraih Merida dan bertarung menyerang Elinor yang telah menjadi beruang. Fergus kalah dan terjatuh, tak disangka Elinor lepas control dan menyerang Merida. Elinor merasa bersalah, dia pun berlari keluar kamar. Merida berusaha menghentikan ayahnya yang akan mengejarnya, Meida menjelaskan pada ayahnya tentang apa yang terjadi, tp sia-sia, Fergus tidak mempercayainya. Fergus mengunci Merida di dalam kamarnya. Semua orang kebetulan bertemu dengan Elinor, kemudian mereka menyerang Elinor. Elinor berlari menuju hutan dengan dikejar oleh Fergus dan pasukan kerajaan. Sementara Merida berusaha keluar dari kamarnya, usahanya gagal. Tapi adiknya si kembar tiga yang saat ini juga telah menjadi beruang kecil karena memakan roti sihir, diperintah Merida untuk mengambil kunci kamarnya yang dibawa oleh salah satu pelayan. Setelah si kembar tiga mendapatkan kuncinya, Merida dan tiga adiknya berlari dengan kudanya, angus. Mereka berkuda sekaligus menjahit permadaninya. Sedangkan elinor sudah terkepung oleh pasukan Fergus. Fergus dan pasukannya menangkap Elinor menggunakan tali, mereka melemparkan talinya pada leher, tangan dan kaki Elinor. Elinor sudah terkunci, mereka menjatuhkan Elinor. Fergus sudah bersiap menebas leher Elinor dengan pedangnya. Saat Fergus mengayunkan pedangnya, Merida datang menangkis pedang ayahnya. Merida berduel dengan ayahnya demi ibunya, Elinor. Tiga kenbar pun juga berusaha menghentikan ayahnya. Tiba-tiba dalam kegelapan hutan, muncul beruang besar yang mengaung, dia adalah Mor’du. Fergus mengomando pasukan yang tersisa untuk menyerang mor’du. Mereka tak berkutik melawannya, Fergus berhadapan langsung dengan mor’du, dan tumbang. Merida membantu ayahnya, mor’du menerkam Merida dan siap menyantapnya. Melihat anaknya terancam, Elinor bangkit, semua pasukan yang menahanya terjatuh. Kemudian Elinor berlari dan menyerang mor’du. Kedua beruang raksasa telah berduel. Bertarungan sangat sengit, namun Elinor terjatuh. Mor’du berbalik menyerang Merida, Merida sudah terjepit. Tapi Elinor sudah menjatuhkan batu besar disamping mor’du dan menimpanya. Mor’du tumbang dan mati, kemudian keluar cahaya biru yang mirip cahaya harapan diatas jasat mor’du, itu adalah roh si bungsu dari kerajaan 4 saudara. Roh itu seakan-akan brterimakasih, lalu menghilang.
Pada akhirnya, mentari kedua sudah mulai menampakkan sinarnya. Merida segera menutup tubuh ibunya dengan permadani yang telah dia perbaiki. Elinor belum juga berubah ke wujud manusianya, Merida mulai menangis dan memeluk ibunya… semua orang terdiam, mereka juga ikut menyesali apa yang telah terjadi. Semua sudah putus asa, Merida yang terlihat begitu sedih dan menangis dipelukan ibunya, tiba-tiba tangan lembut membelai rambutnya. Merida kaget, dan melepas pelukannya untuk melihat ibunya. Ternyata kutukan itu sudah menghilang, ikatan yang rusak telah berhasil diperbaiki. Elinor kembali pada tubuh manusianya, semua orang terharu dan gembira melihat Elinor telah kembali. Si tiga kembar pun jg telah kembali. Mereka sangat bahagia karena semuanya telah kembali normal. Mereka telah berubah menjadi lebih baik, keegoisan telah sirna.
Seorang putri yang merubah takdirnya, telah mendapat kebebasan dan membebaskan klan kerajaan Dunborch dari sebuah ikatan yang tidak adil. Tiga klan utama Dunborch pun akan kembali pada kediamannya dengan gembira.
“banyak yang berkata takdir diluar kemampuan kita. Bahwa takdir bukan ditangan kita. Tapi aku lebih tahu. Takdir kita ada dalam diri kita. Kau hanya perlu sedikit keberanian untuk mengetahuimya.”#Merida*Brave








Tidak ada komentar:
Posting Komentar